![]() |
| Ratusan buruh dari FSPMI Jawa Barat menggelar aksi di depan PT Pratama Abadi Industri (JX2) Garut (KabarKiri/Hsn) |
KabarKiri - Gelombang perlawanan terhadap dugaan praktik union busting kembali bergelora.
Kali ini, Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jawa Barat menggelar aksi solidaritas di depan PT Pratama Abadi Industri (JX2) Garut, Rabu (3/12).
Aksi tersebut diikuti perwakilan buruh dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Purwakarta, Subang, Karawang, Bekasi, Majalengka, Bandung Raya, hingga sejumlah wilayah lainnya.
Kedatangan massa FSPMI bukan sekadar aksi seremonial. Aksi ini menjadi simbol perlawanan terhadap dugaan pelemahan serikat pekerja yang dituding terjadi di internal perusahaan.
Dugaan tersebut mencuat setelah empat orang pekerja diberhentikan (PHK), dan salah satunya, Sdr. Taufik, justru harus menghadapi proses hukum dengan tuduhan pengancaman.
Hingga kini, kasus tersebut telah bergulir dan memasuki sidang ke-7 di Pengadilan Negeri Garut.
Menurut keterangan Yayan Mulyana, yang membuka rangkaian aksi, kehadiran FSPMI dari berbagai daerah merupakan langkah awal dalam menyampaikan pesan tegas kepada manajemen perusahaan.
“Ini adalah aksi perkenalan untuk PT Pratama. Kita datang hanya dengan beberapa perwakilan saja dari setiap daerah di Jawa Barat,” ujar Yayan di hadapan massa aksi.
Walaupun hanya dihadiri perwakilan, semangat solidaritas yang ditunjukkan begitu terasa.
Ketegangan di Gerbang Perusahaan
Situasi sempat memanas ketika massa aksi bersitegang sejumlah warga sekitar yang menjaga kawasan gerbang perusahaan.
Adu argumen tak terhindarkan, meski akhirnya berhasil diredam oleh koordinator lapangan dan aparat keamanan yang berjaga.
Di tengah situasi yang memanas itu, Ketua DPW FSPMI Jawa Barat, Suparno, S.H, menyampaikan orasi yang menyentuh sisi emosional perjuangan buruh.
“Kami datang jauh-jauh ke sini untuk membela warga Garut, warga pribumi asli Garut, yang di-PHK dan diduga dikriminalisasi oleh PT Pratama,” tegas Suparno.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba memprovokasi jalannya aksi.
“Jangan ada yang memprovokasi aksi ini. Kami datang untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang terjadi.”
Suparno pun menyinggung asal perusahaan yang berasal dari Korea hingga menimbulkan diskursus yang lebih luas tentang investasi asing dan perlindungan pekerja lokal.
“PT Pratama adalah perusahaan Korea. Jangan sampai mereka mencari makan di tanah Garut, tetapi justru membuat bangsa ini menderita, apalagi sampai mempidanakan pekerja kita,” ujarnya lantang.
Menanti Mediasi: Titik Balik Kasus?
FSPMI menyatakan bahwa mediasi di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Garut akan digelar pada hari Rabu pekan depan. Mediasi ini menjadi momentum krusial untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Kita tunggu hari Rabu bagaimana hasilnya. Jika masih belum menemukan solusi, kita akan susun strategi lanjutan untuk langkah berikutnya,” tambah Suparno.
Di akhir orasinya, ia menegaskan barisan tetap harus solid di bawah satu komando perjuangan.
“Tetap solid, tetap satu komando, kawan-kawan. Tunggu instruksi selanjutnya,” tutupnya.***

%20(300%20x_20250522_220043_0000.png)
