KabarKiri – Simpang Pokok Jengkol kembali menjadi saksi bisu betapa murahnya nyawa rakyat di tangan penguasa yang hobi memelihara lubang, Senin (27/4/2026), sebuah kecelakaan maut merenggut nyawa seorang ibu tepat di depan mata anaknya.
Penyebabnya klasik: bukan karena kurang mahir berkendara, tapi karena harus "berakrobat" menghindari lubang maut di tengah jalan raya yang sudah mirip medan perang.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 10.30 WIB ini melibatkan Yamaha Mio Soul dan truk tangki CPO. Kronologinya menyedihkan sekaligus memuakkan.
Korban berusaha menghindari lubang, yang entah sudah berapa lama dibiarkan menganga oleh pemerintah, hingga kehilangan kendali dan berakhir di bawah kolong truk.
Si Ibu meninggal di tempat, sementara si anak harus menanggung trauma seumur hidup akibat kelalaian sistematis para pemangku kebijakan.
Jalan Raya atau Wahana Maut?, Jika Anda melintas dari Lampu Merah Simpang Pokok Jengkol hingga Simpang Telkom, Anda tidak sedang melewati fasilitas publik, melainkan "Jalan Zombie". Lubang-lubang besar siap menerkam siapa saja yang lengah.
Belum lagi di Simpang Tiga Babussalam, Jalan Jenderal Sudirman; "geluduk" jalan yang tinggi, lubang yang dalam, ditambah aroma busuk drainase yang bocor melengkapi penderitaan masyarakat Duri setiap harinya.
Hobi Lempar Bola Panas: Provinsi atau Kabupaten?, Lucunya, setiap kali ada keluhan, jawaban klasik yang keluar adalah: "Itu jalan Provinsi." Sebuah alasan usang yang sangat ampuh untuk mencuci tangan.
Wahai para pemimpin di Kabupaten, Kecamatan, hingga Desa, apakah kalian tidak melewati jalan yang sama? Ataukah mobil dinas mewah kalian punya suspensi yang terlalu empuk sehingga lubang-lubang itu terasa seperti karpet beludru? Sangat ironis, daerah yang kaya dengan minyak ini justru membiarkan rakyatnya "tergoreng" di aspal yang hancur lebur.
Inisiatif? Jangan harap. Sepertinya menutup satu lubang demi nyawa manusia jauh lebih sulit daripada mengurus administrasi perjalanan dinas.
Jika untuk urusan nyawa rakyat saja kalian harus menunggu instruksi Gubernur, lantas apa gunanya kalian duduk di kursi empuk pemerintahan daerah?
Tak ketinggalan, DPRD: Dewan Perwakilan Rakyat atau Dewan Pura-pura Budu?, para anggota DPRD yang terhormat.
Saat kampanye, jargon "Demi Kepentingan Rakyat" laku keras. Namun saat jalanan Duri sudah berubah jadi "Jalur Maut", kalian mendadak bisu dan buta.
Apakah kalian sedang sibuk mengumpulkan pundi-pundi harta hingga lupa bahwa ada nyawa yang hilang di daerah pemilihan kalian sendiri?
Masyarakat Duri tidak butuh janji manis atau alasan birokrasi yang berbelit. Kami butuh jalan yang layak, bukan jalan "Zombie" yang terus-menerus memakan korban.
Jika tidak mampu menyelesaikan urusan dasar seperti infrastruktur, mungkin sebaiknya kalian mundur saja daripada terus "makan gaji buta" di atas penderitaan masyarakat setempat.
Masyarakat Duri sudah muak dengan "omon-omon" besar di media sosial. Kalian sibuk membangun citra, mengunggah foto-foto kegiatan dengan caption manis tentang kemajuan daerah dan kesejahteraan rakyat.
Tapi faktanya? Kemajuan itu hanya tampak di rekening bank dan aset pribadi keluarga kalian.
Sementara rakyat? Kami dipaksa bertaruh nyawa setiap kali keluar rumah hanya untuk melewati jalan yang lebih mirip jebakan maut.
Ingatkah kalian saat dilantik? Tangan kalian diletakkan di atas kitab suci, bersumpah demi Tuhan untuk mengabdi pada rakyat.
Jika sumpah itu hanya kalian jadikan formalitas untuk memuluskan jalan mengumpulkan harta, maka jangan salahkan jika rakyat mulai mengetuk pintu langit.
Kalian sok suci bicara demi kepentingan umum, padahal sibuk memperkaya diri sendiri dan kroni.
Harta yang kalian kumpulkan dari air mata dan darah korban jalan berlubang ini tidak akan membawa berkah.
Uang hasil "makan gaji buta" itu mungkin mensejahterakan keluarga kalian di dunia, tapi ingatlah, doa orang-orang yang terzalimi, anak yang kehilangan ibunya, suami yang kehilangan istrinya, adalah peluru yang tak akan meleset.
Jika kalian tidak segera bertindak dan terus melempar tanggung jawab bak pemain bola profesional, maka bersiaplah menuai apa yang kalian tanam.
Jangan kaget jika sumpah serapah masyarakat yang setiap hari terperosok di "Jalan Zombie" itu akan menghantui kalian dan keturunan kalian. Makanlah itu sumpah masyarakat!
Tidak perlu menjadi ahli tata kota untuk sekadar menambal lubang. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit hati nurani yang mungkin sudah tertutup tumpukan uang proyek.
Pilihannya cuma dua: kerja nyata dan perbaiki jalan itu sekarang, atau angkat kaki dari kursi empuk kalian sebelum sumpah masyarakat Duri benar-benar menjadi nyata bagi kalian dan keluarga kalian.
Cukup sudah satu nyawa melayang di Simpang Pokok Jengkol. Jangan tunggu aspal Duri kembali merah karena darah hanya untuk memuaskan syahwat jabatan kalian yang tuli.
Jangan tunggu sampai keluarga kalian sendiri yang menjadi korban di aspal "Zombie" ini baru kalian sibuk bekerja.***
(FN)

%20(300%20x_20250522_220043_0000.png)
