KabarKiri – Es teler dinamakan demikian karena rasanya yang sangat enak dan menyegarkan, membuat siapa pun yang menyantapnya merasa seolah "teler" atau mabuk dalam kenikmatan.
Begitulah seloroh yang muncul dari Fredi Noza, Ketua Umum Tuah Aliansi Anak Melayu (Tuah ALAM) yang akrab disapa Kincai, saat berburu menu berbuka puasa di tengah suasana ngabuburit di Kecamatan Bathin Solapan, Rabu (25/2/2026).
Namun, di balik segarnya segelas es teler yang menemani sore itu, terselip ironi mendalam yang dirasakan warga. Jika es teler membuat orang "mabuk" karena kelezatannya, kepemimpinan di Kecamatan Bathin Solapan justru dinilai membuat warga "mabuk" akibat deretan janji manis yang tak kunjung terealisasi.
Kondisi sosiopolitik di Bathin Solapan saat ini berada di titik nadir. Puncaknya, pada 8 Februari 2026, sejumlah perwakilan warga melayangkan Mosi Tidak Percaya terhadap Camat Bathin Solapan.
Sikap tegas ini merupakan akumulasi kekecewaan masyarakat yang merasa aspirasi mereka selama ini hanya menjadi hiasan di meja birokrasi tanpa eksekusi nyata.
"Masyarakat tidak butuh pemanis kata yang serupa sirup es teler. Kami butuh pembuktian nyata dari janji pembangunan dan pelayanan yang selalu diucapkan," tegas salah satu tokoh masyarakat dalam aksi mosi tersebut.
Mosi tidak percaya ini bukan sekadar gertakan, melainkan rapor merah atas kinerja kecamatan. Ada empat poin utama yang menjadi dasar keresahan masyarakat:
- Kegagalan Realisasi Musrenbang: Forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang baru dilaksanakan pada 4 Februari 2026 dinilai hanya formalitas. Warga menuntut transparansi karena usulan pembangunan tahun 2026 dianggap tidak menyentuh akar masalah di tingkat desa.
- Infrastruktur yang Salah Sasaran: Janji prioritas infrastruktur jalan dan drainase dinilai amburadul. Banyak pembangunan yang tidak tepat guna dan tidak sesuai dengan kebutuhan lokasi, sehingga manfaatnya tidak dirasakan secara signifikan oleh masyarakat luas.
- Tembok Birokrasi dan Komunikasi Eksklusif: Camat dinilai gagal membangun komunikasi dua arah. Warga mengeluhkan sulitnya akses menyampaikan keluhan langsung, sehingga tercipta hambatan dalam urusan administrasi hingga program pelatihan kerja bagi pemuda.
- Desakan Evaluasi Total: Melalui mosi ini, warga meminta Bupati Bengkalis untuk segera mengevaluasi kinerja Camat Bathin Solapan. Rakyat tidak menginginkan pemimpin yang hanya pandai "bersilat lidah" di depan kamera, namun mandul dalam eksekusi di lapangan.
Kritik tajam dari warga menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara kebijakan pemerintah kecamatan dengan kebutuhan mendasar masyarakat.
Hilangnya kepercayaan publik menjadi sinyal bahwa kepemimpinan saat ini sedang mengalami krisis legitimasi yang serius.
Sambil menikmati sisa kesegaran es teler di sore menjelang berbuka, warga Bathin Solapan seolah diingatkan: kenikmatan semu akan hilang saat gelas sudah kosong.
Begitu pula kepemimpinan yang hanya bermodal janji; saat realita tak kunjung hadir, yang tersisa hanyalah perlawanan dari rakyat yang jenuh dengan harapan kosong.
"Kincai dan kawan-kawan menyadari bahwa 'teler' karena es buah itu nikmat, tapi 'teler' karena janji palsu adalah penderitaan. Mosi tidak percaya ini adalah alarm keras: masyarakat sedang terjaga dan menuntut hak atas pembangunan nyata, bukan sekadar bualan manis di atas meja rapat," tutupnya.***
(FN)

%20(300%20x_20250522_220043_0000.png)
