-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Nelayan Desa Tabuyung Menjerit, Muara Dangkal Bertahun-tahun Tanpa Solusi

Selasa, 20 Januari 2026 | 18:38 WIB | 0 Last Updated 2026-01-20T12:41:08Z

KabarKiri – Ribuan nelayan di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), mengirimkan pesan terbuka yang menyentuh hati kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, Selasa (20/01/2026).

Mereka mengeluhkan kondisi muara yang menjadi jalur utama penghubung antara lautan dan sungai yang kini mengalami pendangkalan ekstrem.

Kondisi ini bukanlah masalah baru. Berdasarkan keterangan warga setempat, pendangkalan ini sudah terjadi selama bertahun-tahun tanpa ada tanggapan serius maupun solusi nyata dari pemerintah daerah maupun pusat.

Lumpuh Setiap Hari

Pendangkalan muara ini terjadi hampir setiap hari, mengikuti siklus pasang surut air laut. Akibatnya, aktivitas ekonomi desa yang bergantung pada sektor perikanan menjadi lumpuh.

"Kami seperti dianaktirikan. Setiap hari kami harus menunggu berjam-jam agar air pasang hanya untuk bisa masuk atau keluar muara. Banyak dari kami yang terpaksa mendorong perahu di tengah lumpur, itu sangat melelahkan dan berbahaya," ujar salah satu nelayan setempat dengan nada kecewa.

Poin Utama Keluhan Nelayan

Akses Terputus  Muara yang dangkal membuat perahu nelayan sering kandas, merusak mesin, dan dinding perahu.
Kerugian Ekonomi  Nelayan kehilangan waktu melaut yang berharga. 

Ikan hasil tangkapan seringkali membusuk karena perahu tertahan lama di muara sebelum bisa bersandar.

Pembiaran Bertahun-tahun: Meski sudah sering disuarakan, hingga saat ini belum ada alat berat atau upaya pengerukan permanen dari pemerintah.

Harapan Besar pada Presiden Prabowo
Masyarakat Desa Tabuyung kini menumpukan harapan terakhir mereka kepada Presiden Prabowo Subianto. 

Dibawah kepemimpinan baru ini, nelayan berharap adanya kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat kecil, terutama di wilayah pesisir yang terisolasi.

"Kami hanya ingin bekerja, Pak Presiden. Kami tidak minta kemewahan, kami hanya minta muara ini dikeruk agar kami bisa mencari nafkah untuk anak istri kami dengan tenang. Tolong perhatikan nasib kami di Desa Tabuyung," pungkas warga.***



(Yudistira)
×
Berita Terbaru Update