![]() |
| Wahyu Hidayat bersama kawan-kawan FSPMI lainnya saat mengawal sidang Taufik Hidayat di PN Garut (KabarKiri) |
KabarKiri – Solidaritas tanpa batas kembali ditunjukkan oleh elemen buruh FSPMI. Di tengah kasus kriminalisasi yang menimpa Taufik Hidayat, buruh PT Pratama, gelombang perlawanan terus membesar.
Taufik didakwa hanya karena ungkapan kekesalan "Anjing Sia" kepada orang yang pernah ia tolong, sebuah dakwaan yang didukung oleh tafsir kaku Saksi Ahli Bahasa di persidangan.
Ketidakadilan yang mencolok mata ini membuat Wahyu Hidayat, Ketua PC SPAMK FSPMI Purwakarta, tak bisa tinggal diam.
Mengesampingkan rasa lelah fisik usai perjalanan dinas luar kota dan baru tiba di Purwakarta malam sebelumnya, Wahyu merapat ke barisan aksi di Garut.
Bagi Wahyu, hadir di Garut bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan ideologis. Di kota tempat FSPMI dilahirkan ini, ia berdiri tegak melawan arogansi penegakan hukum yang mengabaikan konteks sosiologis dan rasa terima kasih.
"Kawan kita didzalimi oleh tafsir bahasa yang tidak membumi. Bahkan mereka yang bukan orang Sunda pun tahu, ini adalah ekspresi kekecewaan, bukan kejahatan!" tuturnya, Kamis (4/12).
Kehadiran Wahyu Hidayat menegaskan satu hal: FSPMI tidak akan membiarkan anggotanya berjuang sendirian.
Kriminalisasi terhadap ekspresi buruh adalah bentuk penindasan gaya baru yang harus dilawan dengan solidaritas penuh. Satu sakit, semua sakit!***

%20(300%20x_20250522_220043_0000.png)
