-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Di Balik Data Tenang, Ada Jiwa yang Retak: Fakta Mengerikan Kesehatan Mental

Jumat, 04 Juli 2025 | 09:09 WIB | 0 Last Updated 2025-07-04T02:09:55Z
Sekretaris Bidang Pendidikan dan Kesehatan DPP PKS, Gamal Albinsaid (Dok. PKS)


KabarKiri — Di balik wajah-wajah masyarakat yang tampak biasa, tersembunyi gelombang krisis emosional yang menggerogoti perlahan. Jutaan warga Indonesia kini terjebak dalam pusaran gangguan mental yang tak terdengar suaranya.


‎Krisis ini tak terdata dalam angka kemiskinan ekstrem, tak tersentuh program bantuan sosial, tapi nyata menghantui kehidupan mereka.

‎Di desa-desa dan kota kecil, ada ibu rumah tangga yang menangis tanpa suara, ayah yang tak bisa tidur karena beban hidup, hingga petani yang merasa gagal menafkahi keluarganya.

‎Semua itu terjadi dalam kesepian yang mendalam tanpa peluit peringatan, tanpa pelampung penyelamat.

‎Laporan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2023 mengungkap bahwa gangguan emosional dan perilaku telah menjadi salah satu indikator utama kesehatan mental di Indonesia.

‎Mereka yang berpendidikan rendah (0,41%), para pekerja sektor pertanian dan pertambangan (0,36%), serta warga perdesaan (0,34%) adalah kelompok yang rentan.

‎Namun fakta yang mengejutkan justru datang dari kelompok cerai hidup (0,84%) dan cerai mati (0,79%) yang mencatat tingkat gangguan emosional tertinggi.

‎Situasi ini menjadi perhatian serius bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sekretaris Bidang Pendidikan dan Kesehatan DPP PKS, Gamal Albinsaid, menyatakan keprihatinan mendalam atas apa yang disebutnya sebagai "krisis senyap yang menghancurkan jiwa jutaan rakyat."

‎“Kita sedang berhadapan dengan krisis kesehatan jiwa yang pelan tapi menghancurkan. Dan ini bukan hanya tentang angka. Ini tentang rasa takut, rasa gagal, dan rasa kehilangan yang dirasakan jutaan orang tapi tak terucap,” ujar Gamal dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/7/2025).

‎Gamal menyerukan agar pemerintah mengambil langkah nyata, komprehensif, dan terstruktur. Menurutnya, negara harus lebih dari sekadar peduli, negara harus hadir sepenuhnya dalam masalah ini.

‎“Negara harus hadir. Kita perlu meningkatkan jumlah dan kualitas tenaga kesehatan jiwa psikiater, psikolog, perawat jiwa, dan pekerja sosial dan memastikan mereka tersebar merata di seluruh Indonesia, terutama di daerah-daerah yang selama ini tak terjangkau,” jelasnya.

‎Ia juga menekankan pentingnya memberikan pelatihan dasar kesehatan jiwa bagi tenaga medis umum di layanan primer.

‎“Dokter dan perawat umum di puskesmas-puskesmas harus punya pelatihan dasar tentang kesehatan jiwa. Mereka adalah garda terdepan. Mereka harus bisa memberi pertolongan pertama, mengenali tanda-tanda gangguan, dan merujuk bila perlu," tambahnya.

‎Namun kehadiran negara, menurut Gamal, tidak akan berarti bila tidak disertai alokasi anggaran yang memadai.

‎“Anggaran kesehatan jiwa harus ditingkatkan secara signifikan, bukan hanya untuk pengobatan, tapi juga untuk program pencegahan, edukasi, dan rehabilitasi.”

‎Di akhir pernyataannya, PKS menekankan bahwa isu kesehatan jiwa tak boleh lagi dianggap periferal dalam pembangunan nasional.

‎“Kita tak bisa bicara kualitas SDM tanpa bicara kesehatan jiwa. Tak ada pembangunan yang kokoh bila manusia-manusianya rapuh secara mental,” pungkas Gamal.***

×
Berita Terbaru Update