-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bencana Pasir Munjul Dari Polemik Politik ke Solusi Nyata untuk Warga

Kamis, 19 Juni 2025 | 14:38 WIB | 0 Last Updated 2025-06-19T07:38:39Z
 
Pergeseran tanah di Pasir Munjul, Sukatani, Purwakarta

KabarKiri - Bencana pergeseran tanah di Desa Pasir Munjul, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, telah meninggalkan luka mendalam bagi 256 jiwa dari 83 keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

Sebanyak 69 rumah rusak parah, jalan desa terputus, dan fasilitas umum seperti masjid ikut hancur. 

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purwakarta, bencana ini menjadi salah satu yang terparah sejak 2007, dipicu oleh kondisi geologis lahan yang labil dan curah hujan tinggi. 

Krisis ini tidak hanya menghancurkan fisik desa, tetapi juga memicu polemik politik yang mengguncang publik.  

Polemik bermula saat kunjungan kerja (kunker) Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono, ke Pasir Munjul pada 16 Juni 2025.

Kepala Desa Pasir Munjul mengaku “disuruh” Ono untuk mengkritik Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), terkait lambannya penanganan bencana.

Pernyataan ini memicu amarah netizen yang menuding Ono memanfaatkan duka warga untuk kepentingan politik. 

Ono dengan tegas membantah, menjelaskan bahwa ia hanya meminta Kades menyampaikan aspirasi warga, bukan menyulut konflik. 

“Saya hanya ingin tahu kebutuhan masyarakat, bukan memprovokasi,” ujar Ono dalam klarifikasinya kepada media.  

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein (Om Zein), bersama DPRD Kabupaten Purwakarta, segera turun tangan untuk meredam ketegangan. 

Pada 16 Juni 2025, Om Zein menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). 

Rencana relokasi warga ke lahan milik PTPN disiapkan, dengan desain rumah panggung yang tahan terhadap risiko pergeseran tanah. 

Om Zein menegaskan komitmennya untuk memastikan warga mendapatkan tempat tinggal yang aman dan layak.  

Pada 18 Juni 2025, Kang Dedi Mulyadi (KDM) mengunjungi lokasi bencana, menunjukkan solidaritas dengan menyerahkan bantuan Rp10 juta per keluarga dengan total 850 juta rupiah untuk kebutuhan kontrakan selama proses relokasi. 

KDM juga menyatakan kepercayaannya pada Om Zein untuk menangani krisis ini tanpa kehadirannya secara langsung, seraya menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemerintahan. 

“Saya percaya Purwakarta mampu, dan kami di provinsi siap dukung,” ujar KDM di hadapan warga.  

Wahyu Hidayat, pendiri Spirit Binokasih, mengapresiasi langkah cepat Om Zein dan KDM. 

Namun, ia menyoroti pengalaman relokasi sebelumnya di mana sebagian warga meninggalkan lokasi baru karena jauh dari mata pencaharian. 

Wahyu menekankan pentingnya konsistensi warga untuk menempati lahan PTPN, yang lebih dekat dan strategis. “Kolaborasi pusat, provinsi, dan kabupaten harus dioptimalkan. 

Semoga Allah memudahkan,” katanya. Data PVMBG menunjukkan bahwa zona bencana di Pasir Munjul tidak layak huni, sehingga relokasi menjadi satu-satunya solusi realistis.  

Polemik politik seharusnya tidak mengalihkan fokus dari penderitaan warga. Saatnya semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat, bersatu untuk memastikan Pasir Munjul bangkit kembali.***


(WhY)

×
Berita Terbaru Update