KabarKiri – Polemik di lingkungan SD Negeri 175 Bulo-Bulo, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, terus bergulir.
Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Sekolah SDN 175 Bulo-Bulo, Muh. Nur Azis, menyatakan kesiapannya untuk diganti apabila langkahnya dalam menegakkan tata tertib sekolah dianggap sebagai bentuk intimidasi terhadap siswa.
Pernyataan tersebut disampaikan Muh. Nur Azis sebagai respons atas tudingan dugaan intimidasi pendidikan yang mencuat setelah muncul aksi mogok belajar serta demonstrasi dukungan terhadap kepala sekolah definitif sebelumnya, Erniati, yang kini berstatus nonaktif beberapa hari yang lalu.
“Kalau memang menjalankan tata tertib sekolah ini dianggap intimidasi dan menjadi beban, saya siap diganti saja sebagai PLT,” ujar Muh. Nur Azis kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).
Absensi Dipersoalkan, PLT Kepala Sekolah Membantah Intimidasi
Muh. Nur Azis menjelaskan, absensi siswa yang dipersoalkan oleh sebagian orang tua murid dilakukan semata-mata sebagai tindak lanjut atas adanya teriakan mogok belajar dari sejumlah siswa.
Ia menegaskan bahwa pencatatan kehadiran tersebut merupakan bagian dari tata tertib sekolah yang harus dijalankan oleh pihak manajemen.
“Di sekolah ada tata tertib. Tata tertib itulah yang saya jalankan,” katanya.
Ia membantah keras tudingan bahwa pencatatan nama siswa dilakukan atas perintahnya dan hasil koordinasi dengan Dinas Pendidikan maupun Komite Sekolah sebagai bentuk tekanan.
“Tidak pernah, tidak sama sekali,” tegasnya melalui pesan WhatsApp, Rabu (4/2/2026).
Menurut Muh. Nur Azis, apabila ada pihak yang meyakini dirinya pernah menyatakan telah berkoordinasi dengan dinas maupun komite terkait absensi tersebut, maka tudingan itu harus disertai bukti yang jelas. Ia mengaku memiliki dokumen resmi terkait pencatatan yang dilakukan.
Ia juga menyampaikan bahwa siswa-siswa yang sempat dikabarkan mengalami intimidasi telah melalui proses penyelesaian internal, termasuk mekanisme restitusi, dan saat ini kembali beraktivitas normal di sekolah.
“Mereka sudah seperti siswa lainnya, bahkan sudah bermain bola kembali. Semua ada dokumentasinya,” kata dia.
Pengakuan Orang Tua Murid dan Laporan Resmi
Sementara itu, Surahmi, salah satu orang tua murid, menyampaikan versi berbeda. Ia mengaku telah mendatangi sekolah untuk melakukan klarifikasi langsung kepada PLT Kepala Sekolah pada hari kejadian isu ini berkembang di beberapa murid.
“Saya datang menemui PLT kepala sekolah untuk klarifikasi, dan di hadapan saya beliau mengakui bahwa ada pencatatan nama siswa. Bahkan disebutkan itu perintah langsung dari dirinya yang telah dikoordinasikan dengan pihak dinas dan komite,” ujar Surahmi dengan suara tegas.
Surahmi mengaku telah melaporkan dugaan intimidasi tersebut secara tertulis ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Inspektorat Kabupaten Bulukumba.
“Saya sudah adukan secara tertulis. Saya juga siap memberikan bukti kuat atas pernyataan itu, karena disampaikan di hadapan saya dan disaksikan beberapa murid, dan saat ini saya menunggu panggilan dari saja dari tim pemeriksa untuk permasalahan ini, biar seluruh pihak yang diduga terlibat bisa diberikan sanksi jika terbukti melakukan intimidasi” tegasnya.
Dinas Pendidikan Masih Mendalami
Selain Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bulukumba, Andi Buyung Saputra, membenarkan adanya pengaduan tersebut.
Ia menyatakan bahwa saat ini proses penanganan masih pada tahap pengambilan keterangan.
“Sementara pengambilan keterangan,” ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp beberapa hari yang lalu.
"hanya berlaku di dalam kelas?” katanya.
Di tengah dinamika tersebut, berbagai pihak berharap proses klarifikasi berjalan adil dan transparan, sehingga sekolah dapat kembali menjadi ruang belajar yang aman dan kondusif, bukan arena konflik berkepanjangan.***
(Sapriaris)

%20(300%20x_20250522_220043_0000.png)
