KabarKiri – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkalis terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Melalui program Bimbingan Kemandirian Peternakan, Lapas Bengkalis sukses menetaskan sedikitnya 200 ekor anak ayam secara mandiri menggunakan teknologi mesin inkubator di area asimilasi, Sabtu (21/02).
Keberhasilan ini menjadi bukti konkret implementasi Asta Cita Presiden RI dan 15 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) dalam mewujudkan kedaulatan pangan dari balik jeruji besi.
Kepala Lapas Kelas IIA Bengkalis, Priyo Tri Laksono, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan transformasi fungsi Lapas dari sekadar tempat pembinaan menjadi pusat produksi yang bernilai ekonomis.
"Kami tidak ingin Warga Binaan hanya sekadar mengisi waktu. Penetasan telur mandiri ini adalah langkah strategis untuk memastikan ketersediaan protein hewani secara internal sekaligus memberikan hard skill nyata bagi mereka. Ini sesuai dengan arahan Bapak Presiden untuk memperkuat ketahanan pangan di segala lini," ujar Priyo saat meninjau langsung area peternakan.
Proses penetasan ini melibatkan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang telah dibekali pelatihan teknis khusus.
Dengan memanfaatkan mesin inkubator teknologi tepat guna, tingkat keberhasilan penetasan di Lapas Bengkalis kini mencapai angka yang stabil, yakni 200 ekor per siklus.
Selain ditujukan untuk mengisi kebutuhan kandang internal, hasil produksi ini diproyeksikan memiliki nilai komersial yang dapat menyuplai pasar lokal maupun mitra binaan di wilayah Kabupaten Bengkalis.
"Ke depan, program ini akan terus kami kembangkan. Kami ingin lulusan pembinaan dari Lapas Bengkalis memiliki bekal agribisnis yang kuat, sehingga saat bebas nanti, mereka mampu menjadi agen perubahan dan mandiri secara ekonomi di tengah masyarakat," tambahnya.
Keberhasilan program peternakan ini mencerminkan wajah baru pemasyarakatan yang lebih produktif dan bermartabat.
Lapas Bengkalis membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk berkontribusi bagi negara.
Melalui sinergi antara teknologi inkubasi dan pendampingan berkelanjutan, program ini diharapkan menjadi motor penggerak ketahanan pangan daerah sekaligus sarana reintegrasi sosial yang efektif bagi para warga binaan.***
(FN)

%20(300%20x_20250522_220043_0000.png)
