![]() |
| Ilustrasi ancaman krisis global (KabarKiri) |
KabarKiri - Konflik global kembali memanas. Iran melancarkan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Qatar (Al Udeid Air Base) dan Irak sebagai balasan atas serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
Di sisi lain, milisi Houthi di Yaman, yang didukung Iran, menyerang tanker minyak Amerika, memperburuk ketegangan di jalur perdagangan laut.
Puncaknya, parlemen Iran menyetujui rencana penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan 20% minyak dunia. Meskipun keputusan akhir ada di tangan Dewan Keamanan Nasional Iran, ancaman ini telah membuat pasar global panik.
Harga minyak melonjak lebih dari 4% pada Senin, 23 Juni 2025, dan harga gas di Eropa naik signifikan.
Wahyu Hidayat, pendiri Spirit Binokasih, memperingatkan bahwa perang ini bukan hanya soal korban jiwa, tetapi juga ancaman krisis ekonomi global.
Penutupan Selat Hormuz akan mengganggu pasokan minyak dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, dan Qatar, yang menyumbang sebagian besar ekspor minyak dan gas dunia.
Qatar sendiri menyumbang 20% pasokan LNG global. Jika selat ditutup, harga minyak bisa melonjak 30-50%, memicu inflasi global dan kenaikan harga barang kebutuhan pokok.
Dampaknya akan terasa di Indonesia, khususnya Jawa Barat, sebagai pusat industri dan populasi terbesar di Indonesia.
Jawa Barat, dengan industri tekstil, otomotif, dan manufaktur yang bergantung pada energi dan bahan baku impor, akan menghadapi tantangan berat.
Kenaikan harga BBM akan memicu efek domino yakni meningkatnya biaya produksi, harga barang yang naik, sementara daya beli masyarakat menurun.
Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal mengintai, terutama di sektor industri yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan bahwa pada 2024, sektor industri menyumbang 43% PDRB provinsi.
Gangguan pasokan energi bisa mempengaruhi sektor ini sehingga memperburuk angka pengangguran. Pemerintah pusat dan daerah harus bertindak cepat.
Pertama, harus dipastikan stok pangan aman untuk minimal enam bulan ke depan.. Jawa Barat, sebagai lumbung pangan nasional, harus memperkuat produksi beras dan komoditas strategis lainnya.
Data Dinas Pertanian Jawa Barat menunjukkan stok beras hanya aman hingga akhir 2025 jika tidak ada gangguan distribusi.
Kedua, alokasikan anggaran darurat untuk subsidi energi dan pangan guna menahan laju inflasi. Ketiga, siapkan skenario tanggap krisis, termasuk pelatihan kerja dan bantuan sosial untuk pekerja yang terkena PHK.
Wahyu Hidayat menegaskan, “Pemerintah harus proaktif. Perang ini bukan hanya di Timur Tengah, tetapi dampaknya akan mengguncang dapur-dapur rakyat Jawa Barat,” Selasa (24/6).
Meski Sekretaris Energi AS di CNBC menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz akan “menyakiti Iran sendiri” karena mengganggu ekspor minyaknya, risiko eskalasi tetap tinggi.
Iran memiliki armada kapal cepat, ranjau laut, dan rudal yang mampu mengacaukannya. AS dan sekutunya, termasuk Angkatan Laut AS, mungkin akan turun tangan untuk menjaga selat tetap terbuka, seperti yang dilakukan pada Perang Tanker 1980-an.
Namun, ketegangan militer yang meningkat bisa memperpanjang krisis, membuat harga minyak sulit turun dalam waktu dekat.
Masyarakat Jawa Barat harus bersiap. Mulai dari berhemat, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar, hingga mendukung produk lokal untuk mengurangi dampak impor.
Pemerintah daerah juga harus membuka saluran komunikasi dengan pelaku industri untuk memitigasi risiko PHK. Krisis ini adalah ujian ketahanan kita.
Jika tidak disikapi serius, Jawa Barat bisa terjebak dalam badai ekonomi yang bisa saja lebih besar dari krisis 1998.***
(WhY)

%20(300%20x_20250522_220043_0000.png)
